Trimah mawi pasrah; suwung pamrih; tebih ajrih; langgeng tan ana susah, tan ana seneng; antheng, sugeng jeneng.

Posted on 22 Maret 2009. Filed under: Falsafah Jawa | Tag:, , , , , , , , , , , , , , , , , , |

Artinya, menerima dengan tawakal; tiada pamrih; jauh dari takut; abadi tiada duka, tiada suka; tenang memusat, bahagia bertakhta. “Trimah mawi Pasrah,” menerima apa saja dengan penuh kepasrahan. Tidak sekedar menerima, tapi perlu ada kepasrahan. Untuk menghilangkan rasa takut, maka seseorang dianjurkan untuk mengosongkan hatinya dari pamrih.

” Langgeng tan ana susah tan ana seneng” dapat diterjemahkan “Keabadian yang tak diselimuti perasaan susah maupun senang”. Derita, kesedihan, dan kesusahan pun tak lagi ada. Begitu pun dengan perasaan senang, dalam hal ini pun dianggap tiada. “Antheng mantheng sugeng jeneng” lebih mengarah pada suasana batin yang selalu tenang, konsen, selamat dari kotoran-kotoran nafsu, dan kuat dari segala bentuk ujian dan cobaan. Ketenangan, kearifan, khusyu’ beribadah, terselamatkan dari godaan nafsu, dan kebahagiaan hidup di akhirat kelak adalah lebih baik dari setiap sesuatu di dunia yang baik.

Make a Comment

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

2 Tanggapan to “Trimah mawi pasrah; suwung pamrih; tebih ajrih; langgeng tan ana susah, tan ana seneng; antheng, sugeng jeneng.”

RSS Feed for Tonimulyono Comments RSS Feed

Bagus bangettt, bisa kita jadikan falsafah hidup

terima kasih tanti


Where's The Comment Form?

Liked it here?
Why not try sites on the blogroll...

%d blogger menyukai ini: